SOLOBALAPAN.COM - Pengusaha asal Surabaya, Ivan Sugianto, belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah video dirinya marah besar kepada seorang siswa di sebuah sekolah swasta tersebar luas.
Dalam video tersebut, Ivan tidak hanya melabrak siswa itu, tetapi juga memaksanya untuk bersujud dan menggonggong layaknya anjing.
Apa yang sebenarnya terjadi sehingga tindakan ini memicu kecaman dari berbagai pihak?
Ternyata, Ivan bertindak demikian karena anaknya sering diejek oleh siswa tersebut.
Berikut adalah kronologi kejadian yang kemudian viral di media sosial.
Kronologi Ivan Sugianto Memaksa Siswa untuk Menggonggong
Dalam sebuah tangkapan layar percakapan, dua siswa dari SMA Kristen Gloria 2 terlihat saling berkomunikasi.
Salah satu dari mereka mengolok-olok siswa dari SMA Cita Hati yang diketahui adalah anak dari Ivan, dengan membandingkan dirinya dengan seekor anjing poodle.
"Saya kira kamu tahu kan apa itu poodle?" tanya salah satu siswa SMA Kristen Gloria 2.
"Saya enggak kenal kok, bro. Menurut kamu sendiri poodle itu apa?" jawab siswa dari Cita Hati.
"Anjing lucu, coba cari deh (artinya)," kata siswa Kristen Gloria 2, melanjutkan ledekan.
Tidak terima dengan ejekan tersebut, siswa dari Cita Hati membalas, "Kamu mau disamakan dengan binatang? Iya, kamu disamakan dengan anjing, mau?"
Ivan yang mendengar hal tersebut sangat marah. Ia merasa bahwa ejekan terhadap anaknya sudah terlalu berlebihan.
Dengan emosi yang tinggi, ia langsung mendatangi sekolah dan memaksa siswa yang berinisial E itu untuk meminta maaf dengan cara yang sangat menghina.
"Minta maaf, sujud. Gonggong. Menggonggong!" perintah Ivan.
Seorang pria berkacamata yang diduga merupakan orang tua siswa tersebut berusaha mencegah kejadian tersebut.
Ia meminta agar Ivan memberikan kesempatan dan tidak memperlakukan anaknya dengan cara seperti itu.
"Kesalahan ini sebenarnya dari anak saya, tapi tolong beri kesempatan," ujar pria tersebut.
Namun, Ivan semakin emosi dan membalas, "Kenapa kamu bilang (saya) cari sensasi? Yang cari sensasi itu anakmu, a****g!"
Kepala Sekolah Tak Bisa Berbuat Banyak, Ibu Siswa Pingsan
Di sisi lain, Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Akmarawita Kadir, mengungkapkan bahwa ejekan tersebut berawal dari sebuah pertandingan basket antar tim yang berlangsung seminggu sebelumnya.
Tim yang berasal dari sekolah Cita Hati diketahui telah mengejek tim dari SMA Kristen Gloria 2.
"Seminggu sebelumnya, mereka bermain basket, ada pertandingan antara tim Gloria dan tim dari sekolah lain, yaitu Cita Hati. Ejekan ini rupanya terjadi setelah pertandingan tersebut," kata Kadir.
Ia juga membenarkan bahwa Ivan memaksa siswa yang mengejek anaknya untuk meminta maaf dengan cara yang sangat merendahkan.
"Untuk meminta anak yang mengejek agar meminta maaf, Ivan meminta agar dia jongkok dan menggonggong. Kepala sekolah membiarkan tindakan ini terjadi. Memang itu (kepala sekolah) ketakutan," lanjut Kadir.
Menurutnya, Kepala Sekolah SMA Kristen Gloria 2 merasa tidak bisa menghalangi tindakan Ivan yang datang dengan rombongan, sehingga ia memilih untuk membiarkan siswa diperlakukan seperti itu.
"Kepala sekolah tidak bisa menghalangi kejadian ini. Keamanan sekolah sempat turun tangan untuk mencegahnya, tapi pada akhirnya kejadian itu tetap berlangsung," ujar Kadir.
Tidak hanya kepala sekolah yang tampak ketakutan, ibu dari siswa yang mengejek anak Ivan juga dilaporkan tidak bisa berbuat banyak.
Saat menyaksikan anaknya disuruh bersujud dan menggonggong seperti anjing, ibu tersebut kabarnya sampai mengalami kejang dan pingsan.
"Orang tua siswa yang terlibat akhirnya hanya bisa menyetujui tindakan itu. Namun, ibu siswa tersebut langsung kejang dan pingsan setelah melihat perlakuan terhadap anaknya," jelas Kadir.
Kesimpulan
Peristiwa ini memicu reaksi keras dari masyarakat, baik di dunia maya maupun di kalangan pejabat setempat.
Tindakan Ivan Sugianto, meskipun dipicu oleh perasaan marah karena anaknya diejek, tetap dianggap berlebihan dan tidak pantas.
Sementara itu, pihak sekolah juga mendapat kritik karena tidak mampu menghalangi tindakan yang merendahkan martabat siswa tersebut. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo