SOLOBALAPAN.COM - Julia Rimba, yang dikenal masyarakat sebagai seorang konten kreator dan TikTokers, mendadak menjadi sorotan setelah muncul protes terkait buku yang ia jual.
Kontroversi Julia Rimba bermula dari tudingan bahwa sang TikTokers menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) ChatGPT untuk buku yang ditulisnya.
Kasus Julia Rimba ini berdasarkan unggahan dari pengguna TikTok @reville Sinaga.
Dalam unggahan pemilik TikTok tersebut, sang pemilik akun membongkar dugaan penggunaan AI dalam karya milik Julia Rimba tersebut.
Unggahan serupa kemudian diposting melalui cuitan akun Twitter @rwanifles yang mengungkap bahwa sebagian besar konten buku Julia mungkin berasal dari ChatGPT.
"Jadi ada seleb TikTok jualan buku tentang self-love, tapi ada yang ngeh kalau isinya hasil copas dari ChatGPT," cuit @rwanifles.
Menurut pengakuan @rwanifles, meskipun banyak yang membela tindakan Julia, hal ini tetap menimbulkan pertanyaan tentang orisinalitas karya tersebut.
Buku Julia dijual dengan harga Rp35.000, dan Julia menyatakan bahwa ChatGPT digunakan sebagai alat bantu untuk mengedit karena ia tidak menggunakan jasa editor.
Julia Rimba sendiri merespons protes yang beredar dengan membuat video klarifikasi di akun TikTok-nya, @juliarimbaa.
Lewat unggahan videonya, Julia Rimba menjelaskan bahwa dirinya menggunakan ChatGPT bukan untuk menulis dari awal, melainkan hanya untuk membantu proses penyuntingan.
Ia juga menegaskan bahwa alasan di balik keputusannya menggunakan AI adalah karena pernah tertipu oleh editor sebelumnya.
"Aku dua kali ketipu sama editor, jadi aku pikir kenapa tidak menggunakan AI untuk edit karena aku tidak meresmikan buku ini," kata Julia Rimba dalam klarifikasinya, dikutip pada Minggu (27/10/2024).
Menurut Julia, buku pertamanya yang berjudul 'Seratus Juta Pertama' ditulis dengan tujuan menginspirasi orang lain melalui kisahnya yang berhasil mendapatkan penghasilan besar dari media sosial.
Sementara itu, buku keduanya, 'Wanita Kok Tantrum', bertujuan menginspirasi wanita untuk tidak fokus pada hal-hal yang mengganggu kemajuan diri.
Julia mengakui memang benar menggunakan ChatGPT, namun penggunaan alat AI tersebutr ditegaskannya hanya untuk proses penyuntingan.
"Aku tidak ada yang disembunyikan, ini bukan buku resmi, dan aku tidak berbohong," jelasnya.
Di tengah protes yang muncul, Julia Rimba tetap mendapatkan dukungan dari sebagian pengikutnya.
Banyak yang memahami keputusan Julia menggunakan AI, terutama karena kendala dalam menemukan editor yang tepat.
Julia juga menunjukkan draft-draft tulisannya di Google Docs sebagai bukti bahwa ia benar-benar menulis buku tersebut, meskipun dengan bantuan ChatGPT untuk penyuntingan akhir.
Sosok Julia Rimba sendiri kemudian jadi sorotan atas gaduhnya dugaan penggunaan AI untuk penulisan buku tersebut.
Wanita satu ini sebenarnya telah dikenal sebelum kontroversi ini, terutama di dunia konten kreator.
Lahir pada tahun 2000 dengan nama lengkap Julia Martinez, ia pernah mengikuti ajang pencarian bakat X Factor Indonesia saat berusia 15 tahun.
Meski tidak banyak informasi mendalam tentang kehidupan pribadinya, Julia kini telah menikah dengan pria asal luar negeri dan aktif sebagai konten kreator yang membagikan pengalaman hidup serta cara mencintai diri sendiri.
Julia memiliki pengikut yang cukup besar di media sosial.
Di TikTok, akun @juliarimbaa miliknya telah diikuti oleh 638 ribu orang, sementara di Instagram, ia memiliki sekitar 29,6 ribu pengikut.
Konten-kontennya sebagian besar berfokus pada self-love dan pengalaman hidup, yang menarik perhatian banyak pengikut, terutama di kalangan anak muda. (lz)