SOLOBALAPAN.COM - Pemberian gelar doktor kepada Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terus menjadi sorotan tajam publik.
Masa studi singkat yang ditempuh Bahlil Lahadalia dalam menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Indonesia (UI) yang tercatat kurang dari dua tahun menjadi alasan utama munculnya petisi yang dipelopori oleh alumni UI melalui platform change.org.
Petisi ini bertujuan untuk mempertanyakan validitas proses pemberian gelar doktoral Bahlil Lahadalia tersebut serta menjaga integritas pendidikan tinggi di Indonesia.
Salah satu penggagas petisi, Harris Muttaqin, menyampaikan kekhawatirannya bahwa Bahlil mungkin saja melanggar standar akademik yang telah ditetapkan UI.
Dalam pernyataannya, Harris menyoroti kejanggalan bahwa rata-rata waktu yang diperlukan untuk meraih gelar doktor biasanya lebih dari tiga tahun.
"Bahlil bisa menyelesaikannya kurang dari dua tahun. Ini sangat mencolok dan perlu ditelusuri lebih lanjut," ucap Harris.
Selain itu, ada kecurigaan bahwa karya ilmiah Bahlil diterbitkan di jurnal predator, yang standar akademisnya diragukan.
Hal ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kredibilitas penelitian yang dihasilkan.
Petisi ini semakin mendapat dukungan setelah muncul temuan dari metadata file disertasi Bahlil yang menunjukkan penulis dengan nama lain, Alvian Cendy Yustian, bukan Bahlil.
Meskipun beberapa orang mencoba berprasangka baik, bahwa nama tersebut mungkin hanya bertugas mengonversi file dari Word ke PDF, banyak yang melihat ini sebagai bukti adanya dugaan penggunaan "joki" dalam proses penyelesaian disertasi.
Hingga Kamis malam, petisi ini telah mengumpulkan lebih dari 1.000 tanda tangan dengan harapan UI akan meninjau ulang pemberian gelar tersebut.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, seolah memberikan pandangannya yang berbeda.
Dalam sebuah acara di Jakarta, Muhadjir bak menyatakan kekagumannya terhadap kemampuan Bahlil dalam menyelesaikan pendidikan doktoral dalam waktu yang singkat.
Tak seperti Bahlil, Muhadjir yang juga pernah menempuh pendidikan S3 di Universitas Airlangga (UNAIR), mengaku butuh waktu enam tahun untuk menyelesaikan studinya di bidang Sosiologi Militer.
"Saya kagum pada Pak Bahlil, kuliahnya di UI cuma 2 tahun, cumlaude. Luar biasa itu," ucap Muhadjir, menambahkan bahwa Bahlil pasti telah bekerja keras untuk mencapai prestasi tersebut.
Pernyataan Muhadjir Effendy tersebut dianggap sebagai sebuah sentilan terhadap Bahlil Lahadalia yang menyelesaikan masa doktoralnya tak sampai 2 tahun.
Bahlil sendiri mengklaim bahwa keberhasilannya menyelesaikan studi dalam waktu singkat disebabkan oleh fokus yang luar biasa dan alokasi waktu yang optimal di tengah kesibukannya sebagai menteri.
"Saya dalam proses tidak pernah ada pemberian atau cuma-cuma. Semuanya perjuangan," ujarnya setelah Sidang Terbuka Promosi Doktor di UI. (lz)
Editor : Laila Zakiya