SOLOBALAPAN.COM - Tri Wibowo dan Yuli Sri Utami, orang tua (AKPW), masih dalam duka mendalam atas kehilangan anak sulung mereka.
Di tengah peringatan Maulid Nabi, mereka harus merelakan sang anak pulang hanya tinggal nama.
Santri berusia 13 tahun itu meninggal dunia diduga akibat perundungan oleh kakak tingkatnya di pondok pesantren.
Di rumah duka, Yuli tak henti-hentinya menangis di samping jenazah putranya. Tri Wibowo pun tak kuasa menahan air mata, terutama saat melihat kedatangan teman-teman sekelas anaknya untuk melayat.
Di sela-sela menemui para pelayat, Tri mengaku tidak tahu persis kejadian yang menimpa putranya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, Abdul menjadi korban bullying yang bermula dari masalah sepele.
"Katanya karena alasan senioritas, anak saya diminta rokok. Tapi dia tidak merokok, jadi dia dipukuli," ujar Tri dengan suara bergetar menahan tangis.
Tri menerima kabar kematian putranya pada Senin siang, sekitar pukul 13.00 WIB. Bersama sang istri, ia segera menuju pondok pesantren.
Setibanya di sana, ia diarahkan untuk naik mobil pondok menuju klinik terdekat. Namun, di klinik tersebut, Tri baru menyadari bahwa putranya sudah tiada.
Kepastian meninggalnya sang anak baru dikonfirmasi oleh pihak RSUD Dr. Moewardi.
Hati Tri hancur mengetahui kenyataan ini. Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa anaknya akan meninggal dengan cara tragis.
Abdul Karim baru 1,5 tahun menempuh pendidikan di pondok tersebut dengan harapan bisa mendapatkan pendidikan akademik sekaligus memperdalam ilmu agama.
Tri menceritakan bahwa pertemuan terakhir dengan putranya terjadi pekan lalu, saat jadwal "Sambang Santri."
Mereka sempat berjalan-jalan di sekitar Solo bersama istri dan kedua adiknya. Abdul bahkan sempat menginap di rumah selama sehari sebelum diantar kembali ke pondok.
Saat ditanya apakah ia merasakan firasat buruk, Tri mengingat wajah putranya yang tampak sayu pada pertemuan terakhir itu, namun tidak menghiraukannya.
"Anak saya tidak pernah bilang apa-apa. Saat ditanya, katanya di sana baik-baik saja. Jadi, saya selalu berusaha berpikir positif," kenangnya.
Saat ini, Tri menunggu hasil otopsi dari rumah sakit. Ia berencana membawa kasus kematian anaknya ke ranah hukum untuk mendapatkan kejelasan.
"Ini bukan soal dendam dengan pondok pesantren. Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya," tegasnya.
Tri berharap kejadian ini menjadi yang terakhir. "Saya tidak ingin ada korban lain.
Pondok pesantren seharusnya menjadi tempat yang baik bagi anak-anak, tapi jangan sampai ada korban lagi.
Kasihan mereka, jauh dari orang tua, datang untuk belajar tapi malah mendapat perlakuan keras," pungkasnya. (ant)
Editor : Nindia Aprilia