SOLOBALAPAN.COM - Terpantau, tagar bertuliskan "Tangkap Mulyono" masih menduduki sederet trending topik pemberitaan di X.
Tercatat pada Kamis (29/8/24) ada 19.4 ribu postingan yang menyuarakan tagar fenomenal tersebut.
Pastinya hal itu muncul setelah dunia perpolitikan di Indonesia tengah tidak baik-baik saja. Bahkan beberapa kali mahasiswa hingga masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan turun ke jalan untuk lakukan demonstrasi.
Upaya tersebut dilakukan setelah beberapa kali kepemimpinan Presiden Joko Widodo terbongkar dalam berbagai kebijakan yang tidak sejalan dengan masyarakat.
Seperti yang diketahui, sebelumnya #Mulyono juga sempat trending di X. Diketahui nama tersebut merupakan nama masa kecil Joko Widodo.
Kala itu, Presiden Jokowi mengungkap namanya adalah Joko Mulyono. Namun saat itu namanya diubah karena kerap sakit dan dianggap keberatan nama.
Setelah itu, kini nama Mulyono mendadak tenar hingga banyak dibagikan oleh masyarakat di Indonesia.
Salah satunya pada tagar #TangkapMulyono yang tengah menjadi perbincangan. Hal tersebut dikaitkan dengan beberapa kasus korupsi pada periode Pemerintahan Jokowi.
Bukan hanya korupsi, namun isu politik dinasti juga menghantui akhir masa kepemimpinanya di tahun 2024 ini.
Pasalnya, anak dan menantu Jokowi nampak memiliki jabatan yang cukup tinggi di pemerintahan Indonesia.
Mulai dari Gibran Rakabumin yang menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan mendampingi Prabowo Subianto hingga kini Kaesang Pangarep yang digadang gadang akan melaju ke Pilgub.
Pro kontra majunya Kaesang inilah yang membuat masyarakat geram hingga lakukan aksi penolahan putusan Mk beberapa hari lalu.
Masih berlanjut, kini justru di tagar yang tengah trending tersebut warganet mulai beberkan berbagai hal nefgatif yang terjadi di masa pemerintahan Presiden Jokowi.
Seperti yang di unggah oleh akun @OmJ_JeNggot, Ia turut menyebutkan salah satu dugaan korupsi proyek.
'Ditemukan Aliran Dana Sebesar 500 Triliyun diluar Pembangunan Proyek'
'PPATK Bongkar Korupsi yg dilakukan Rezim Jokowi'
Sampai berita ini diterbitkan, warganet masih terus menyuarakan tagar tersebut hingga dibanjiri beragam argumen dari masyarakat luas. (nda)
Editor : Nindia Aprilia