SOLOBALAPAN.COM - Belakangan, Armor Toreador mengungkapkan keinginannya untuk bebas dari penjara dan rujuk dengan Cut Intan Nabila.
Awalnya, keinginan Armor Toreador untuk bebas dan rujuk dengan Cut Intan Nabila itu disampaikan oleh keluarga pihak lelaki.
Keluarga, yang kemudian dikuatkan dengan pengakuan Armor Toreador, mengatakan bahwa ketiga anak Cut Intan Nabila masih memerlukan kedua orang tuanya secara lengkap.
Sehingga, keluarga Armor Toreador dengan teguh mendesak Cut Intan Nabila untuk mencabut laporan terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga itu agar sang suami bisa bebas.
Cut Intan Nabila di sisi lain mencoba membungkam keinginan Armor Toreador untuk bebas dan rujuk.
Sempat muncul beberapa waktu lalu, Cut Intan Nabila menegaskan bahwa dirinya tak akan menarik laporan terhadap sang suami yang disebutnya memang kerap melakukan penganiayaan.
Selain itu, Cut Intan Nabila juga kekinian mengunggah kembali video rekaman lain penganiayaan yang dilakukan oleh Armor Toreador.
Tak sama seperti sebelumnya, penganiayaan kali ini dilakukan Armor Toreador di kamar mereka berdua.
Saat itu, Cut Intan Nabila sedang dalam posisi berbaring sementara Armor Toreador ada di atasnya.
Armor Toreador dengan brutalnya menjotos sang istri, bahkan suara pukulan kencang terdengar dari rekaman CCTV yang dibagikan sang mantan atlet anggar tersebut.
Bukan cuma itu saja, Armor Toreador juga terlihat beberapa kali melakukan penganiayaan, termasuk dengan menindih leher sang istri menggunakan kakinya.
Nahasnya, aksi penganiayaan tersebut dilakukan oleh Armor Toreador di hadapan anaknya yang masih balita.
Sang anak yang saat itu sedang menyusu langsung bangun dari tidurnya dan melepas botolnya.
Ia kemudian mendekat ke arah ibunya yang saat itu sedang terancam dengan perlakuan Armor Toreador.
Meski sang anak terbangun dan menyaksikan penganiayaan tersebut, Armor Toreador tak menghentikan aksinya.
Sang anak bahkan menyaksikan kejamnya perlakuan Armor Toreador ayahnya ke Cut Intan Nabila yang merupakan ibunya hingga akhir, meski ia hanya terdiam lantaran tak tahu apa yang sedang terjadi. (lz)
Editor : Laila Zakiya