SOLOBALAPAN.COM - Belakangan, viral di media sosial soal video mahasiswa PPDS Unpad yang diduga menyindir kasus bunuh diri yang disebut dilakukan oleh mahasiswi PPDS Anestesi Undip Semarang.
Diketahui sebelumnya, geger kabar seorang mahasiswi Undip Semarang yang didiuga mengakhiri hidupnya akibat kena bully dari para seniornya.
Usai dugaan senioritas yang jadi penyebab bunuh diri itu viral, sekelompok mahasiswi Unpad lantas membuat sebuah video yang berhasil menarik atensi banyak pihak.
Pasalnya, sekelompok mahasiswa yang disebut tengah menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) itu terlihat sedang mempromosikan program milik kampus di video tersebut.
Namun sayangnya, video promosi itu bernarasikan jika lingkungan PPDS Unpad bersih dari senioritas.
Bahkan, dalam videonya, sekelompok mahasiswa menyatakan jika perundungan atau bullying di lingkungan kedokteran adalah hal yang lebay.
Video tersebut lantas jadi pusat perhatian lantaran dinilai tak berempati pada kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswi PPDS Anestesi Undip Semarang yang belum lama ini ditemukan meninggal dunia.
Terkait viralnya video promosi tersebut, pihak Unpad pun memberikan keterangan.
Dikatakan bahwa pihak kampus saat ini tengah mendiskusikan terkait persoalan tersebut.
“Terkait masalah ini, kebetulan tengah dibicarakan dalam rapat internal FK. Beliau mengatakan, Insyallah hari Senin bisa dikonfirmasi hasil rapatnya,” kata Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad, Dandi Supriadi, Minggu, 18 Agustus 2024.
Sementara itu mengenai dugaan bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswi PPDS Anestesi Undip, pihak keluarga membantah tudingan tersebut.
Melalui pengacaranya, pihak keluarga menerangkan jika sosok ARL (30), mahasiswi PPDS Anestesi Undip Semarang yang ditemukan meninggal dunia di kosannya itu memang punya penyakit yang sudah lama dideritanya.
Selain itu, pihak kepolisian menyebut jika dalam buku diary milik korban yang juga ditemukan saat kejadian, hanya berisi curhatannya kepada Tuhan.
Dari keterangan Polrestabes Semarang, tak ditemukan adanya dugaan perundungan atau senioritas dalam buku diary milik mahasiswi PPDS Anestesi Undip Semarang itu. (lz)
Editor : Laila Zakiya