SOLOBALAPA.COM - Raissa Alfaathir Heri, seorang dokter asal Makassar memberikan tanggapan soal kasus perundungan atau senioritas yang terjadi di kalangan mahasiswa PPDS.
Dokter asal Makassar itu menyebut jika perundungan tak seharusnya terjadi di kalangan para calon dokter yang tengah menjalani program pendidikan spesialis atau PPDS.
Apalagi belakangan ini, banyak oknum dokter yang bak menganggap jika senioritas di kalangan mahasiswi PPDS adalah hal yang lumrah.
Sejumlah dokter lain menyebut jika untuk menjadi seorang dokter yang kompeten, memang harus dididik dengan mental yang kuat semasa menjalani pendidikan.
Sehingga beberapa di antaranya bak menyudutkan sosok mahasiswi PPDS di Undip Semarang yang beberapa lalu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia diduga akibat tak kuat menghadapi senioritas atau perundungan.
Beberapa oknum dokter lain bahkan dengan terang-terangan menyebut jika taku kuat mental, maka tak perlu masuk ke kedokteran.
Banyaknya komentar yang tak tepat soal kasus meninggalnya dokter PPDS di Semarang diduga akibat tak kuast dibully itu lantas ditanggapi berbeda oleh Raissa Alfaathir Heri.
Menurutnya, sejumlah dokter yang dianggap tak berempati pada korban itu lantaran tak merasakan secara langsung senioritas yang dirasakan oleh dokter PPDS di Semarang itu.
'Teman2, just because it didnt happen to you, doesnt mean it didnt happen at all.
Cuma karena proses PPDS anda baik2 saja tanpa bully, tidak berarti di departemen atau centre lain juga bebas bully.' tulis dokter Neurologist tersebut.
Ia kemudian menilai bahwasanya pendidikan kedokteran tak perlu diwarnai dengan adanya senioritas dan perundungan.
'Apapun alasannya, sesedikit apapun kasusnya, bully tetap harus kita hindarkan.' sambungnya.
Dokter asal Makassar itupun memberikan kritikan pedas bagi oknum sesama dokter lain yang dianggap tak berempati.
'“Ya tapi yang depresi dan suicide cuma 1 kasus. Di luar sana ada ribuan kok yang berhasil pendidikannya”
Cuma?' cuitnya.
Dokter Raissa Alfaathir lantas membagikan unggahan media sosialnya sekitar 4 tahun lalu.
Saat itu, ia sempat menjadi chief resident dan memutuskan untuk mengganti sejumlah aturan agar senioritas di lingkungan tersebut tak begitu keterlaluan.
Namun keputusan yang diambilnya itu justru mendapat banyak tentangan dari para senior, bahkan ia dicap memihak kepada para junior.
Raissa Alfaathir mengaku harus melewati banyak langkah yang menjadi tantangan demi terciptanya lingkungan pendidikan kedokteran minim senioritas. (lz)
Editor : Laila Zakiya