SOLOBALAPAN.COM - Momen Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Ri yang ke-79 harusnya diwarnai dengan kebahagiaan.
Namun berbeda dengan warga Brebes ini, diketahui seorang pria bernama M (43) meninggal dunia ketika ikut menyemarakkan lomba 17 Agustusan.
Berdasarkan video yang beredar di akun X @bacottetangga__, nampak beberapa pria yang tengah mengikuti lomba -panjat pinang.
Saat itu korban tengah berada di tingkatan nomor dua dimana kakinya berada di pundak rekannya yang nomor satu.
Kemudian ada rekan lain yang memanjat di atas pundaknya dengan posisi dirinya yang tengah berjongkok.
Namun, dirinya tidak bisa memikul beban tubuh satu rekannya yang berhasil berada di posisi atasnya.
Satu orang lain yang belum kebagian tempat spontan langsung mengangkat tubuh korban agar dirinya berdiri.
Naasnya, saat itu korban seperti hilang tumopuan dan tidak seimbang. Setelah itu dirinya langsung terjatuh di tanah yang telah dibasahi dengan sedikit air.
Korban langsung terkapar dan mendapatkan pertolongan dari beberapa rekannya untuk di bawa ke lokasi yang lebih aman.
Ternyata berdasarkan informasi yang beredar, kepala korban sempat terkena tubuh rekan di atasnya ketika terjatuh.
Korban juga sempat dilarikan ke Rumah Sakit terdekat dan kemudian mendapat rujukan karena luka serius yang Ia alami.
Naasnya, setelah satu hari korban tidak bisa diselamatkan hingga dinyatakan meninggal dunia pada (17/824).
Berita ini langsung viral dan mendapatkan banyak komentar dari warganet, apalagi yang menyoroti lokasi dibuatnya perlombaan panjat pinang tersebut.
"tradisi kolonial begini kok masih terus dilestarikan sih? para kompeni suka banget liat kalian rebutan hadiah yg gak seberapa dan mempertaruhkan nyawa itu" tulis @jellyjilliii__.
"Innalilahi wa innailaihi rajiun sampe bisa separah itu, makanya sekarang banyak yang mengurangi lomba panjat pinang" tulis @strssovrld.
"Setahu saya kalau panjat pinang itu di permukaan air atau di kali" tulis @SyaefulOfficial.
Kejadian ini menjadi pelajaran dan bentuk kewaspadaan bagi masyarakat Indonesia, apalagi ketika memilih lomba 17 Agustusan. (nda)
Editor : Nindia Aprilia