SOLOBALAPAN.COM - Senioritas di kalangan mahasiswa PPDS di universitas Indonesia kini tengah jadi sorotan.
Pasalnya, banyak mahasiswa PPDS di Indonesia yang mengaku harus mendapatkan perundungan atau senioritas yang dinilai tak wajar saat menjalani pendidikan.
Senioritas di PPDS yang ada di Indonesia salah satunya dibeberkan oleh akun Instagram @drg.mirza, yang juga merupakan seorang tenaga kesehatan.
Akun tersebut memang cukup vokal usai kabar dugaan bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswi PPDS Anestesi Undip Semarang viral baru-baru ini.
Diduga akhiri hidup karena tak kuat perundungan atau senioritas, korban sempat mencurahkan isi hatinya lewat buku diary yang ditemukan di kosan miliknya.
Dokter Mirza, yang juga mengetahui kabar tersebut, lantas membeberkan sejumlah senioritas yang diketahuinya di kalangan mahasiswa kedokteran, terutama mahasiswa PPDS.
Disebutkannya, banyak senior yang mempergunakan kesempatan tersebut untuk keperluan pribadinya.
Bahkan junior bisa saja menjadi pengasuh dadakan demi memenuhi permintaan seniornya di PPDS.
'Ngambilin laundry senior, jemput sekolah anak seniornya, jadi pengasuh anaknya senior dan konsulen, nyuciin seragam futsal nya seniornya.'
'Bahkan nyuciin baju daleman seniornya.
Luar biasa memang pendidikan spesialis di Indonesia, keren!' tulis Dokter Mirza lewat unggahan Instagramnya, dikutip pada Sabtu, 17 Agustus 2024.
Selain itu, sejumlah warganet lainnya juga mengaku pernah menemukan hal serupa saat menjalani PPDS.
Dari curhatan sejumlah warganet, banyak senior di PPDS yang bahkan meminta dibayari pajak mobilnya.
Bahkan adapula yang mengaku jika diminta seniornya untuk membayar cicilan mobil milik sang senior.
Namun hingga kini, belum ada bukti kuat mengenai dugaan senioritas tersebut.
Hanya saja, hingga artikel ini ditayangkan, masih banyak warganet yang mengaku menjadi korban dari senioritas di PPDS. (lz)
Editor : Laila Zakiya