SOLOBALAPAN.COM - Sosok dokter bernama Prathita Amanda Aryani yang merupakan salah satu Dokter di RS Kariadi Semarang mendadak diseret dalam kasus perundungan.
Sebelumnya, Dr. Aulia Risma Lestari diketahui meninggal dunia di kamar kostnya usai menyuntikkan obat dengan dosis tinggi di salah satu bagian tubuh.
Berdasarkan temuan buku diary di kamar kostnya, dokter muda ini diketahui mengalami sebuah bully hingga Ia pada akhirnya nekat mengakhiri hidup dengan menyuntikkan obat berdosis tinggi.
Setelah itu, turut viral pesan singkat yang dibagikan warganet melalui X terkait Prathita Amanda Aryani yang diduga terlibat Bully.
Ia nampak meminta juniornya untuk memakan 5 bungkus nasi padang dan harus divideokan sebagai salah satu bukti dan hukuman.
Setelah itu, chat tersebut langsung tersebar di media sosial hingga gemparkan warganet. Sementara itu salah satu akun @MurtadhaOne1 membagikan beberapa beban kerja Mahasiswa PPDS Undip, diantaranya:
1. Jam kerja " normal " tanpa giliran jaga adalah: 18 jam/hari. Masuk jam 6 pagi, pulang jam 12 malam.
Kalau bisa pulang jam 11 malam artinya pulang cepat. Tidak jarang harus pulang jam 2 atau 3 pagi. Hari berikutnya sudah harus standby lagi jam 6 pagi di RS.
Ini berlangsung terus menerus selama masa studi-5 tahun.
2. Jika dapat giliran jaga, maka jaga minimal 24 jam dan dapat prolonged hingga 5-6 hari tidak bisa pulang dari RS.
Dikarenakan sering kali PPDS harus melanjutkan operasi yg terus sambung menyambung melebihi giliran jaganya.
3. Jumlah operasi di RS Kariadi sangat tinggi, bisa 120 pasien/hari. Sedangkan, semua beban kerja bius pasien dilakukan oleh PPDS. DPJP sbg penanggung jawab hanya menerima laporan.
4. Lamanya jam kerja yg terus menerus ini tidak pernah dianggap tidak wajar selam ini.
5. Jumlah operasi di RS Kariadi sangat tinggi, bisa 120 pasien/hari. Sedangkan, semua beban kerja bius pasien dilakukan oleh PPDS.
DPJP sbg penanggung jawab hanya menerima laporan.
6. Lamanya jam kerja yg terus menerus ini tidak pernah dianggap tidak wajar, selama ini bahkan dianggap sebagai " keunggulan " NDIP dibandingkan univ lainnya, di mana residen dianggap bisa dapat kesempatan praktik lebih luas.
Beberapa korban perundungan atau bully yang terjadi di kalangan Mahasiswa PPDS Undip Semarang juga turut buka suara.
Mereka makin berani speak up dan duduhkan berbagai bukti terkait kasus perundungan yang masih marak terjadi di masa sekarang. (nda)