SOLOBALAPAN.COM - Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), daerah yang terkena gempa megathrust di Indonesia meliputi beberapa wilayah utama.
Gempa megathrust adalah jenis gempa yang terjadi akibat pergeseran lempeng benua dalam skala besar.
Ketika pergeseran ini sangat signifikan, gelombang laut yang dihasilkan dapat menyebabkan tsunami yang dahsyat.
Mengutip dari YouTube Gempa ITB, gempa megathrust disebabkan oleh pergeseran lempeng benua yang sangat besar.
“Jika pergeseran bidang megathrust sangat besar maka gelombang air laut akan menjadi sangat besar dan menyebabkan tsunami,” dikutip oleh Solobalapan.com, pada Rabu, 14 Agustus 2024.
Untuk informasi mengenai lokasi gempa megathrust di Indonesia, Daryono, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, memberikan penjelasan.
Dalam wawancaranya bersama tvOne yang ditayangkan di YouTube tvOneNews pada 2022.
Daryono menjelaskan bahwa terdapat beberapa daerah di Indonesia yang terletak di jalur megathrust.
“Jalur megathrust di Indonesia terbagi menjadi 13 segmen,” ujar Daryono, seperti yang dikutip pada Selasa, 13 Agustus 2024.
Adapun lokasi-lokasi tersebut meliputi barat Sumatra, Andaman, Aceh, Nias, Mentawai, Bangka Belitung, Bengkulu, Enggano, serta berbelok ke Selat Sunda.
Selanjutnya, jalur megathrust melanjutkan ke selatan Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali Selatan, NTB, Sumba, dan akhirnya di utara Sulawesi, termasuk megathrust Laut Sulawesi.
Berdasarkan penjelasan dari BMKG yang disampaikan oleh Daryono, daerah-daerah yang terkena gempa megathrust di Indonesia adalah:
- Barat Sumatera
- Andaman
- Aceh
- Nias
- Mentawai
- Bangka Belitung (Babel)
- Bengkulu
- Enggano
- Selat Sunda
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Banten
- Bali Selatan
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Sumba
- Laut Sulawesi
- Utara Sulawesi
Daryono juga menjelaskan bahwa terdapat lebih dari 295 patahan di Indonesia, menandakan kompleksitas sumber gempa di negara ini.
“Kalau patahan itu ada lebih dari 295, itulah Indonesia sangat kompleks sumber gempanya,” ujar Daryono.
Sementara itu, menurut Heri Andreas, peneliti Geodesi dari ITB, Jakarta juga berpotensi terdampak tsunami jika terjadi gempa dengan skala 8 atau 9 M di Selat Sunda.
Heri Andreas menjelaskan bahwa seandainya terjadi gempa dengan kekuatan tersebut, tsunami yang dihasilkan bisa mencapai Jakarta dalam waktu sekitar tiga jam.
Setelah terjadinya megathrust di selatan Jawa Barat dan Banten.
Heri kemudian memperlihatkan simulasi mengenai dampak gempa dan tsunami di kawasan megathrust selatan Jawa Barat dan Banten.
Heri Andreas menjelaskan bahwa jika terjadi gempa skala 8 atau 9 M di Selat Sunda.
Tsunami diperkirakan akan tiba di Jakarta sekitar tiga jam kemudian dengan ketinggian sekitar 1-1,5 meter.
Peneliti Geodesi ITB ini menambahkan bahwa dampak tsunami di Jakarta bisa menjadi dua kali lipat.
Hal ini karena sebagian besar pesisir Jakarta sudah berada satu hingga dua meter di bawah permukaan laut.
"Karena Jakarta ini pesisirnya sudah berada satu hingga dua meter di bawah laut, tentu dampaknya jadi dua kali lipat," ungkapnya.
Heri juga memperkirakan bahwa daerah seperti Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara, dan Muara Baru akan mengalami banjir setinggi 1-2 meter. (did)