SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini kasus tindakan anarki yang dilakukan oleh seorang dosen Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY viral di media sosial.
Nama Arwan Nur Ramadhan, seorang pria yang berprofesi sebagai dosen UNY jadi sorotan usai aksinya melakukan anarki kepada mahasiswanya viral.
Dalam video yang beredar, Arwan Nur Ramadhan terlihat memiting seorang mahasiswa UNY yang saat itu sedang berdemo.
Namun ternyata bukan cuma satu kali ini saja, kasus serupa tindakan anarkis Arwan Nur Ramadhan terjadi.
Mahasiswa UNY sebelumnya juga pernah menghadapi kasus anarki dalam bentuk yang lain.
Menurut keterangan sejumlah warganet yang mengaku merupakan warga UNY, para mahasiswa berulang kali dibungkamsaat hendak menyuarakan demokrasi di lingkungan kampus.
Kasus dibungkamnya mahasiswa terakhir kali terjadi saat Badan Eksekutif Mahasiwa atau BEM UNY melakukan protes atas kenaikan UKT.
Saat itu, sejumlah anggota BEM UNY dan mahasiswa yang terlibat mengaku mendapatkan intimidasi usai menggelar aksi demontrasi.
Intimidasi tersebut disampaikan mulai dari pejabat yang duduk di rektorat kampus, hingga kalangan dosen.
'-Presiden BEM kami diintimidasi
-Teman-teman kami ditakut-takuti
-Rektorat, Guru Besar & Dosen Emoh Sikapi Situasi Demokrasi
-Fasilitas tidak kunjung diperbaiki
-Panitia PKKMB berusaha dikontrol lgsg oleh Rektorat, pemerintahan mahasiswa digrogoti
-Tahun depan UKT & IPI naik lagi,' tulis akun X @mahasiswauenyeh, dikutip pada Rabu, 7 Agustus 2024.
Terkait tindakan anarkis yang dilakukan Arwan Nur Ramadhan, disebut bahwa aksi tersebut terjadi saat mahasiswa melakukan demo terkait PKKMB yang dinilai cacat.
Aksi Arwan Nur Ramadhan yang memiting seorang mahasiwa yang sedang berdemio terekam melaui tayangan live akun Instagram @gardabiru.uny.
Kini, Arwan Nur Ramadhan yang tercatat sebagai dosen di Departemen Pendidikan Administrasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNY memutuskan untuk membatasi media sosialnya setelah namanya jadi sorotan.
Selain Arwan Nur Ramadhan, terlihat pula sejumlahg staf kampus lain yang juga turut melakukan kekerasan kepada para mahasiswa yang berdemo. (lz)
Editor : Laila Zakiya