SOLOBALAPAN.COM - Merek tas mewah Dior kini tengah diterpa kontroversi.
Pasalnya, Dior disebut-sebut mematok harga yang begitu mahal untuk satu buah tas yang diproduksinya.
Padahal diketahui bahwa Dior punya biaya produksi minimalis.
Terungkap bahwa Dior hanya memerlukan 57 US Dolar atau sekitar Rp930 ribu jika dirupiahkan.
Padahal untuk tas dengan biaya produksi di atas, Dior mematok harga di angka 2.780 US Dolar atau sekitar Rp45 juta..
Angka tersebut didapat berdasarkan dari dokumen pengadilan Italia yang didapat oleh Reuters.
Dalam ranah hukum, ditemukan pula adanya dugaan eksploitasi terhadap pegawai di perusahaan Dior.
Penyelidik menemukan jika pekerja pembuatan tas sampai harus tidur di perusahaan agat tas tersebut dapat diproduksi tepat waktu.
Dilihat dari data penggunaan listriknya, terungkap juga bahwa proses produksi tas itu dilakukan di malam hari dan hari libur.
Tak cuma Dior, luxury bag Giorgino Armani juga ikut-ikutan terseret dalam kasus tersebut.
Habiskan biaya produksi sekitar 99 US Dolar, Giorgio Armani menjual tas mewahnya dengan harga 1.900 US Dolar atau seharga Rp31 juta di tokonya.
Meskipun tak didakwa pidana, namun Dior dan Giorgio Armani disebut melakukan eksploitasi pegawai yang merupakan warga China.
Meskipun menuliskan tag 'Made in Italy', nyatanya kedua produk itu menggunakan subkontraktor dan biaya 'Made in China'.
Dior kemudian diklaim telah lalai karena tak mengambil kebijakan untuk mengecek kondisi pekerja dan kapasitas teknik perusahaan kontraktor tersebut. (lz)
Editor : Laila Zakiya