Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Viral Rektor UII Yogyakarta, Fathul Wahid, Melarang Siapapun Memanggilnya Profesor: Kerendahan Hatinya Tuai Pujian Publik!

Didi Agung Eko Purnomo • Minggu, 21 Juli 2024 | 23:56 WIB
Rektor UII Fathul Wahid.
Rektor UII Fathul Wahid.

SOLOBALAPAN.COM -  Profesor Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), sering membuat kebijakan yang berbeda dari universitas lain.

Baru-baru ini, beliau mengeluarkan surat edaran di lingkungan kampusnya agar gelar akademiknya tidak dicantumkan dalam surat resmi.

Terkecuali pada tandatangan ijazah dan transkrip nilai mahasiswa.

Selain itu, beliau juga dengan tulus meminta kepada koleganya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'prof'.

Permintaan ini disampaikan melalui akun media sosialnya di Instagram pribadinya @fathulwahid_ pada Kamis, 18 Juli 2024.

"Dengan segala hormat, sebagai upaya untuk menurunkan kesakralan jabatan profesor, kepada seluruh sahabat, mulai hari ini mohon jangan panggil saya dengan sebutan 'prof'."

"Panggil saja: Fathul, Dik Fathul, Kang Fathul, Mas Fathul, atau Pak Fathul. Insyaallah akan lebih menentramkan dan membahagiakan. Matur nuwun," tulisnya.

Pada tanggal 18 Juli 2024, Profesor Fathul Wahid menerbitkan surat edaran resmi dengan nomor 2748/Rek/10/SP/VII/2024.

Surat tersebut meminta kepada seluruh stafnya di Universitas Islam Indonesia untuk hanya menuliskan nama Fathul Wahid tanpa mencantumkan gelar apapun.

Termasuk gelar profesor, kecuali pada ijazah dan transkrip nilai mahasiswa.

Kebijakan ini, yang dianggap sebagai langkah "out of the box", cepat menyebar luas di media sosial.

 

Sementara itu, Fathul Wahid memiliki tiga alasan mendasar untuk menerbitkan kebijakan yang berbeda tersebut.

Pertama, dia ingin menjaga semangat kolegialitas di lingkungan kampus.

"Jangan sampai jabatan profesor justru menambah jarak sosial. Kampus seharusnya menjadi salah satu tempat yang paling demokratis di muka bumi," katanya.

Alasan kedua, menurutnya, jabatan profesor memang merupakan pencapaian akademik, tetapi lebih penting lagi adalah tanggung jawab publik yang melekat padanya.

"Saat ini, di Indonesia semakin banyak profesor, tetapi tidak mudah mencari intelektual publik yang konsisten dalam menegakkan kebenaran ketika ada penyelewengan," ujarnya.

Alasan ketiga yang diungkapkan oleh Fathul Wahid adalah untuk mendesakralisasi jabatan profesor.

Menurutnya, sangat penting untuk tidak menjadikan jabatan profesor sebagai status sosial yang dikejar-kejar, terutama oleh pejabat dan politisi, yang sering kali mengabaikan etika.

"Kalau peraturan sih bisa dibuat. Banyak peraturan yang tidak kalis kepentingan."

"Saya berharap semakin banyak profesor yang berkenan ikut sebagai gerakan moral simbolik yang bisa menjadi budaya egaliter baru yang permanen," pungkasnya.

Kolom komentar instagramnya pun kini tuai banyak pujian oleh publik. Ia dinilai sebagai rektor yang memiliki kerendahan hati. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#profesor #yogyakarta #tuai pujian #Fathul Wahid #rektor uii