SOLOBALAPAN.COM - Eks Bupati Purwakarta sekaligus aktivis Dedi Mulyadi ikut turun tangan dalam kasus pembunuhan Vina Cirebon.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa keterangan yang diungkap oleh Aep, saksi dalam kasus Vina Cirebon adalah kebohongan.
Dedi Mulyadi mengatakan hal tersebut setelah sempat bertemu langsung dengan Aep dan menggali informasi mengenai kasus pembunuhan Vina Cirebon.
Kepada Dedi Mulyadi, Aep mengatakan jika dirinya sempat melihat aksi kejar-kejaran antara para pelaku geng motor dan Vina yang saat itu dibonceng Eki kekasihnya.
Aep menuturkan bahwa pada saat itu dirinya menyaksikan ada 4 motor berboncengan yang mengejar korban.
Kejadian tersebut dilihat Aep dari jarak 100 meter pada saat malam hari.
Keterangan Aep itu tak lantas membuat Dedi Mulyadi berpuas diri.
"Saya pergi lagi ke Cirebon, saya tanya warung itu di mana," kata Dedi Mulyadi dalam konferensi pers bersama Otto Hasibuan.
Ketika meninjau lokasi yang dimaksud, rupanya Dedi tak menemukan warung rokok atau sembako.
Ia malah menemukan sebuah warung makan yang terletak di lokasi sesuai deskripsi Aep.
"Ketika saya tanya warung yang di depan pencucian mobil, ternyata warung nasi bukan warung rokok," sambungnya.
Bahkan warung yang ditemukan oleh Dedi tak buka hingga malam hari.
"Dan dia mengatakan bukanya sampai jam 4 sore," kata Dedi.
Dedi kemudian mencoba menemukan Saka Tatal.
Namun ia justru bertemu dengan rekan Saka Tatal, Sadikun.
"Sadikun menjelaskan pada malam minggu Saka Tatal itu ngumpul di sini (rumah anak bu RT -red)," ungkapnya.
Pada saat kejadian, Saka Tatal disebut sedang nongkrong dengan sejumlah teman.
Mereka asyik mengobrol, hingga pada akhirnya salah satu motor milik teman Saka Tatal diketahui mogok.
"Kemudian motor temannya mogok, maka motornya didorong distep," sambungnya.
Saat menuju ke bengkel, Saka Tatal dan temannya hendak melewati flyover.
Akan tetapi, saat itu posisi flyover sudah dipenuhi dengan banyak polisi.
"Di jembatan flyover itu Sadikun nggak berani lewat karena ada polisi," ucapnya.
Sadikun tak berani melintas karena dirinya belum memiliki SIM dan saat itu tak menggunakan helmnya.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk berbelok ke kanan untuk menuju ke bengkel.
Pernyataan teman Saka Tatal itu kemudian coba dibuktikan oleh Dedi Mulyadi dengan mengajak rekonstruksi.
"Tiba saya ke tempat bengkel itu saya bertanya langsung yang punya bengkelnya itu, dia mengatakan betul pada malam itu ke sini," pungkasnya. (LZ)
Editor : Laila Zakiya