SOLOBALAPAN.COM - Reza Indragiri selaki Psikolog Forensik memberikan pandangannya mengenai kasus Vina Cirebon.
Reza Indragiri mengaku punya keraguan setelah Pegi alias Perong ditangkap dalam kasus Vina Cirebon.
Apalagi, setelah 8 tahun kasus Vina Cirebon berlalu, Pegi alias Perong dapat dengan mudahnya ditangkap oleh Polda Jabar.
Reza Indragiri lantas membeberkan alasan dirinya merasa ragu atas ditangkapnya Pegi.
"Saya menetapkan ada 4 kriteria untuk menakar kualitas proses pengungkapan kasus pidana, tuntas, transparan, menyeluruh dan efektif," kata Reza Indragiri, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV.
Dari keterangan tersebut, Reza Indragiri menerangkan jika yang dimaksud dengan objektif adalah sesuai dengan peraturan yang ada.
"Ada adagium dalam hukum bahwa satu saksi bukan merupakan saksi," sambungnya.
Dengan nilai tersebut, Reza Indragiri dengan blak-blakan mengaku punya keraguan pada sosok Aep, yang dijadikan saksi kunci dalam kasus Vina Cirebon.
"Hal ini sebangun dengan hasil riset forensik, yang menyimpulkan bahwa pengakuan, keterangan saksi atau sejenisnya bisa merusak proses penegakan hukum, merusak proses pengungkapan fakta," ucap Reza.
Kini Aep kerap muncul di hadapan publik untuk memberikan keterangannya terkait kasus Vina Cirebon juga termasuk dalam kejanggalan yang membuat Reza Indragiri merasa ragu.
Padahal Aep sendiri diketahui tak hadir dalam persidangan para terdakwa kasus Vina Cirebon yang sudah berlalu.
"Bisa dikatakan ini hal mengejutkan sekaligus menggembirakan, DPO yang 8 tahun tak tentu rimbanya dan kemunculan yang disebut saksi kunci," lanjutnya.
Dengan demikian, Reza Indragiri dengan jelas meragiukan kesaksian yang diberikan oleh Aep.
Terlebih Aep mengaku masih mengenali wajah Pegi alias Perong yang baru saja ditangkap oleh Polda Jabar.
Dari penjelasan Reza Indragiri, ingatan manusia seperti yang diungkap oleh Aep, mudah terfragmentasi dan terdistorsi, sesuai keinginannya dan pengaruh pihak lain.
Sehingga pengakuan mengenai ingatan saksi kunci kasus Vina Cirebon itu memang membuat Reza Indragiri menjadi skeptis. (LZ)
Editor : Laila Zakiya