SOLOBALAPAN.COM – Kasus penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, kini resmi menjadi sorotan dunia.
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) secara terbuka menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan brutal yang terjadi di jantung ibu kota Jakarta tersebut.
Melalui akun resminya di platform X, PBB mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengungkap dalang di balik teror ini dan memastikan keselamatan para pembela HAM.
PBB: Pembela HAM Harus Dilindungi Tanpa Rasa Takut
PBB menegaskan bahwa aksi kekerasan terhadap aktivis tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Menurut mereka, para pembela HAM memiliki peran vital dalam menyuarakan kepentingan publik.
"#Indonesia: Sangat prihatin atas serangan asam mengerikan terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Urusan Luar Negeri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (@Kontras)," tulis PBB dalam akun @UNHumanRights.
Secara tegas, PBB mendesak pengungkapan kasus ini dan pertanggungjawaban atas tindak kekerasan yang terjadi kepada para pembela HAM.
"Pembela hak asasi manusia harus dilindungi dalam pekerjaan vital mereka dan dapat mengangkat isu-isu kepentingan publik tanpa rasa takut," tulis PBB.
Kronologi Teror Pasca Rekaman Podcast
Peristiwa keji ini terjadi pada Kamis malam (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB.
Koordinator Kontras, Dimas Bagus Arya, menjelaskan bahwa Andrie baru saja selesai merekam siniar (podcast) di Kantor YLBHI dengan tema kritis: “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.
Saat tengah mengendarai motor di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat, Andrie dipepet oleh dua orang tak dikenal (OTK) yang mengendarai motor matic.
Tanpa peringatan, salah satu pelaku menyiramkan air keras ke arah tubuh Andrie.
Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar serius hingga 24 persen di sekujur tubuh, termasuk wajah, dada, tangan, dan bagian mata.
Saat ini, ia tengah menjalani perawatan intensif di RSCM dan bersiap menjalani operasi mata.
Serangan yang Direncanakan? Bukan Kali Pertama Diintimidasi
Kontras menduga kuat serangan ini berkaitan erat dengan kerja-kerja advokasi yang dilakukan Andrie.
Menariknya, tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, sehingga motif perampokan dikesampingkan.
Dimas Bagus Arya mengungkapkan bahwa Andrie sebelumnya sudah sering menerima teror dan intimidasi, terutama setelah ia terlibat aktif dalam aksi menolak rancangan UU TNI pada Maret 2025 lalu.
"Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil," tegas Dimas.
Ciri-Ciri Pelaku: Terlihat di Rekaman dan Kesaksian
Berdasarkan laporan Kontras, pelaku berjumlah dua orang laki-laki dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Pengemudi: Menggunakan kaos kombinasi putih-biru, celana jeans gelap, dan helm hitam.
Eksekutor (Penumpang): Menggunakan masker buff hitam yang menutupi setengah wajah, kaos biru tua, dan celana panjang biru yang dilipat.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat sipil terus mendesak aparat kepolisian untuk segera menangkap pelaku guna membuktikan bahwa hukum di Indonesia masih berpihak pada keadilan dan perlindungan warga negara. (dam)
Editor : Damianus Bram