Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Awal Perseteruan Garena Free Fire dengan Kreator Tung Tung Tung Sahur, Siapa yang Salah? Ini 5 Poin Kuncinya

Didi Agung Eko Purnomo • Kamis, 19 Juni 2025 | 04:07 WIB
Tung Tung Sahur Garena Free Fire.
Tung Tung Sahur Garena Free Fire.

SOLOBALAPAN.COM - Sebuah polemik mengemuka di ruang digital terkait penggunaan gambar viral "Tung Tung Tung Sahur" oleh game Garena Free Fire.

Kasus ini melibatkan kreator konten @noxaasht dan memicu perdebatan luas mengenai status karya yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI).

Untuk memahami duduk perkaranya secara utuh, berikut adalah 5 poin kunci yang merangkum situasi dari berbagai sudut pandang.

1. Asal-Usul Karya: Input Manusia dan Alat AI

Fakta pertama adalah mengenai proses penciptaan.

Karya visual ini dihasilkan menggunakan AI Art Generator.

Pihak kreator, @noxaasht, menyatakan bahwa dirinyalah yang memberikan input awal berupa ide, konsep, dan serangkaian perintah (prompt) spesifik untuk menciptakan gambar tersebut.

Setelah itu, ia juga yang mempopulerkannya di platform media sosial TikTok hingga menjadi viral.

Baca Juga: Viral Tung Tung Tung Sahur Dipakai Garena Free Fire Tanpa Izin, Sang Kreator Kecewa Soal Hak Cipta Karya AI

2. Keberatan Kreator: Fokus pada Aspek Etika

Kreator @noxaasht telah menyampaikan keberatannya secara terbuka.

Dalam pernyataannya, ia menunjukkan pemahaman bahwa status hak cipta untuk karya AI belum jelas secara hukum.

Oleh karena itu, fokus keberatannya adalah pada aspek etika bisnis.

Ia menyoroti tidak adanya respons dari pihak Garena terhadap upaya komunikasi yang ia lakukan.

Permintaannya adalah adanya etika dan pengakuan atas perannya dalam mempopulerkan visual tersebut.

3. Landasan Hukum: Ketiadaan Regulasi Spesifik

Pusat dari perdebatan ini adalah kondisi hukum di Indonesia.

Undang-Undang Hak Cipta yang berlaku saat ini belum memiliki pasal yang secara eksplisit mengatur status kepemilikan atas karya yang dihasilkan oleh AI.

Hal ini menyebabkan munculnya dua interpretasi utama di publik:

  • Interpretasi Pertama: Ide, konsep, dan perintah (prompt) dari manusia adalah dasar dari penciptaan, sehingga pemberi perintah layak mendapat pengakuan sebagai pencipta.
  • Interpretasi Kedua: Karena proses akhirnya tidak dilakukan oleh tangan manusia secara langsung, maka karya tersebut dapat dianggap sebagai domain publik dan bebas digunakan.

4. Respons Garena: Belum Ada Pernyataan Resmi

Hingga berita ini diturunkan, pihak Garena Free Fire sebagai perusahaan yang menggunakan visual tersebut dalam permainannya belum mengeluarkan pernyataan atau klarifikasi resmi.

Baca Juga: Fenomena Tung Tung Tung Sahur: Meme Viral, Tapi Kok Dipantau Pemerintah?

Tanpa adanya pernyataan dari pihak Garena, motif dan dasar pertimbangan mereka dalam menggunakan visual tersebut belum dapat diketahui secara pasti.

5. Reaksi Publik: Terjadi Perbedaan Pandangan

Kasus ini secara cepat memicu diskusi luas di kalangan warganet dan pelaku industri kreatif. Opini publik terbagi menjadi dua pandangan utama.

Sebagian warganet mendukung posisi kreator atas dasar prinsip etika dan keadilan.

Sebagian lainnya berargumen dari sudut pandang hukum, menyatakan bahwa karya yang tidak memiliki status hak cipta yang jelas pada dasarnya bebas untuk dimanfaatkan oleh siapa pun. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Garena Free Fire #tung tung tung sahur #perseteruan